Laman

Jumat, 08 Juli 2011

Berikan Yang Terbaik Untuk Allah

Setiap kali saya datang ke Indonesia, saya dapat merasakan kehadiran para kekasih Allah, setiap kali dikumandangkan shalawat, saya merasa benar-benar kehadiran Rasulullah saw di sini. Di sini pula, saya merasakan getaran yang sangat kuat Hasan dan Husain kedua cucu Rasulullah yang telah ditetapkan sebagai pemuda-pemuda penghuni surga. Lihatlah arti sebuah nama, dari nama tersebut membawa getaran-getaran surgawi yang kuat.
Allah menciptakan semua makhluknya pada tempat-tempat yang telah Ia tentukan. Tidak akan ada yang bisa mengubah ketentuan Allah. Allah telah menentukan di mana tiap-tiap makhluk diposisikan.

Belajar dari Kisah Habil dan Qabil
Saat Allah memerintahkan Habil dan Qabil untuk berkurban. Habil memberikan kurban yang terbaik, mempersembahkan yang terbaik dari dirinya untuk Allah azza wa jalla. Sedangkan Qabil, ia berpikir, Allah sudah kaya tidak perlu kurban yang baik, dan ia was-was dan terlalu cinta pada harta miliknya, sehingga mempersembahkan kurban yang terburuk untuk Allah.
Maka Allah tidak menerima kurban Qabil, Allah menerima kurban Habil. Keduanya sama-sama mematuhi perintah Allah, tapi yang satu melaksanakan dengan usaha yang terbaik, sedangkan yang lain dengan usaha yang terburuk.
Berhati-hatilah dan ambilah pelajaran dari kisah ini. Berikan yang terbaik dalam beribadah kepada Allah, percuma kamu mengucapkan Allahu Akbar lalu shalat, tetapi hatimu masih kotor, masih ada rasa benci pada saudaramu. Hati-hatilah, Allah tidak akan menerima ibadahmu!
Saat iblis menolak untuk sujud pada Adam as, ia tidak patuh pada Allah, padahal ia sebelumnya adalah makhluk yang rajin beribadah. Ingat, apa-apa yang diperintahkan Allah itu sebenarnya kendaraan untuk dapat mencapai Allah. Maka persiapkanlah kendaraan-kendaraan itu.

Kisah Orang Buta
Ada seorang sahabat Rasulullah saw yang buta dan meminta beliau mendoakannya agar sembuh dari kebutaannya. Rasulullah bersabda, “Bisakah kamu bersabar?” Rasulullah tidak langsung mendoakan orang tersebut sebagaimana yang pernah beliau lakukan kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib kw saat menderita sakit mata, dengan barakah air liur dan doa Rasulullah saw. Saat diusapkan ke mata Sahabat Ali.
Bukan hanya sembuh, tapi mata beliau dapat melihat musuh yang jaraknya sangat jauh. Sahabat yang buta ini tidak langsung didoakan seperti itu, Rasulullah saw memerintahkan ia berwudlu lalu shalat dua rakaat  kemudian  berdoa, “Kepada Mu aku menghadap bersama dengan nabi Mu Muhammad. Wahai Muhammad, aku bersamamu menuju Tuhanku berdasarkan hajatku. Aku mohon kepada Tuhanku dengan perantaramu. Ya Allah izinkanlah dia menjadi perantara Mu.”
Setelah membaca doa itu, matanya  bisa melihat kembali. Rasulullah saw secara langsung menjadikan dirinya fasilitas kendaraan bagi umat untuk menuju Allah azza wa jalla.
Dulu umat selalu datang kepada Rasulullah saw, membawa masalah-masalah mereka, memohon pertolongan, dan Rasulullah saw menolong mereka, memberikan jalan keluar untuk semua masalah mereka. Mengapa sekarang ini umat muslim selalu banyak masalah dan menjadi yang terbelakang? Karena mereka lupa untuk datang pada Rasulullah saw, memohon pertolongan beliau. Yakni mereka telah lupa untuk selalu mengagungkan nama Rasulullah saw dan bershalawat kepada beliau. Maka mereka tidak bisa mendapatkan jalan keluar bagi masalah-masalah yang menimpa.
Semua rukun Islam juga merupakan wasilah atau kendaraan untuk dapat mencapai Allah. Lakukanlah zakat saat memang harus berzakat, jangan ragu-ragu, jangan takut, harta yang kamu zakatkan tersusun rapi di sisi Allah, tidak akan hilang.
Ada nasihat Sahabat Ali bin Abi Thalib kw mengenai beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seseorang untuk bisa selamat.
Pertama, diam. Diam adalah suatu amal yang baik. Manusia punya kecenderungan ingin selalu bicara, selalu mengungkapkan pendapat, kalau tidak ada orang yang diajak bicara, dia cari kaca, atau dia bicara dengan isterinya, anaknya dan kadang mengajak bertengkar dengan mereka. Kebanyakan manusia tidak bisa diam. Maka jagalah lisanmu! Diam adalah lebih baik. Jika kamu berbicara, maka bicarakanlah hal-hal yang baik lagi bermanfaat.
Kedua, jagalah pandangan. Lihatlah ke kakimu sendiri saat berjalan. Artinya, kamu tidak melihat jauh ke orang lain yang akan membuat kamu melihat buruknya atau aibnya orang lain, lalu kamu membicarakannya. Lebih baik kamu melihat ke kakimu sendiri, artinya melihat aib-aibmu sendiri. Jangan lihat aib-aib orang lain.
Ketiga, bertafakur. Lihatlah kebesaran Allah. Itu akan membuatmu ingat kepada-Nya. Diamlah, jaga lisanmu dengan berpuasa, bersihkan lidahmu dari semua hal-hal yang tidak bermanfaat, dari semua kata-kata yang tidak islami, basahi lidahmu dengan berdzikir, mengingat Allah. Seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw memohon keringanan dalam menjalankan ibadah-ibadah dan syariat-syariat Islam, karena ia merasa tidak mampu melaksanankan semua syariat Islam. Rasulullah saw lalu memerintahkan ia untuk selalu berdzikir mengingat Allah. Sebab dzikir, bisa menutupi kekurangan ibadah-ibadah yang tidak mampu dikerjakan secara sempurna. Wa-minallahi taufiq hidayah wal inayah. (Disarikan dari tausiah beliau saat berkunjung ke Indonesia).
Dari: *Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani

Tidak ada komentar: