Laman

Kamis, 21 Juli 2011

Penurunan Berat Badan Penderita Diabetes Dapat Kurangi Risiko Alzheimer

Sebuah penelitian di AS baru-baru ini menyebutkan bahwa operasi penurunan berat badan  bagi pederita diabetes dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer. Demikian dikutip dari Alarabiya

Disebutkan para peneliti telah menemukan bahwa orang yang menjalani operasi perut stapel ketika diperiksa setelah 6 bulan operasi, mereka mengalami penurunan dalam gen yang diyakini akan memberikan tanda sebelum kontainer limbah yang memblokir otak pada pasien penderita Alzheimer.

Profesor di University of New York State, Pandona Parrish, mengungkapkan hasil penemuan itu untuk pertama kalinya bahwa, "penurunan berat badan yang dihasilkan dari operasi untuk mengurangi ukuran perut dapat mengurangi kemampuan gen yang terkait dengan penyakit Alzheimer."

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis darah 15 pasien dengan diabetes tipe II yang menjalani operasi untuk mengurangi berat badan. Pasien mampu menurunkan sekitar 86 kilogram dalam 6 bulan. Dibandingkan dengan situasi pasien sebelum operasi, menunjukkan protein rendah karbohidrat sebesar 22 persen, yang merupakan prekursor dari Alzheimer.

Namun, studi ini tidak memeriksa pasien untuk tanda-tanda penyakit, hingga sampai sekarang tidak di ketahui apakah risiko Alzheimer mungkin sudah hilang atau tidak.

Para ilmuwan percaya bahwa "ada hubungan antara obesitas dan diabetes, yang tampaknya meningkatkan risiko Alzheimer".

Menurut Greg Cole, Direktur Pusat Alzheimer di Universitas California, yang juga menegaskan bahwa obesitas dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh dan otak.
 
Cole juga mengatakan "kemungkinan untuk meningkatkan berat badan demi kesehatan, tapi ada peringatan dari kompleksitas penurunan berat badan, yang Terjadi diakhir ketika lansia demensia. Mungkin juga ada perbedaan penting dalam cara mereka yang mempengaruhi perubahan berat badan seseorang di usia pertengahan risiko Alzheimer:maka Perempuan yang turun berat badannya antara usia 30 sampai 45 tahun kemungkinan akan menghadapi peningkatan risiko infeksi." */irda
Dari:Hidayatullah.com

READMORE - Penurunan Berat Badan Penderita Diabetes Dapat Kurangi Risiko Alzheimer

Narsis, Tanda Alami Gangguan Mental?

Narsis atau yang dalam istilah ilmiah disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan psikologis ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi untuk kepentingan pribadinya dan juga rasa ingin dikagumi.

Narsis termasuk salah satu dari tipe penyakit kepribadian. Seseorang yang menderita gangguan narsis biasanya diiringi juga dengan pribadi yang emosional, lebih banyak berpura-pura, antisosial dan terlalu mendramatisir sesuatu.

Namun, di balik topeng kepercayaan diri yang tinggi terdapat sebuah harga diri yang rapuh dan sensitif terhadap setiap kritik kecil. Hal ini terjadi dengan sendirinya dan jika gangguan ini begitu kuat sehingga mengasingkan seseorang dari masyarakat, maka perlu mengambil langkah-langkah penyembuhan, seperti melakukan psikoterapi.

Narsisme lebih mungkin terjadi pada usia muda dan mungkin disebabkan karena pendidikan yang 'tidak sehat', contohnya orangtua yang terlalu memanjakan anaknya. Anak yang selalu dimanja dan mendapat banyak perhatian, cenderung mengharapkan perhatian yang sama di kemudian hari, seperti dilansir Healthmad, Sabtu (25/06/2011).

Penyebab lain yaitu sikap terlalu diabaikan atau pelecehan saat masih usia anak-anak. Seseorang yang terabaikan di masa kecil dapat berubah yang akhirnya mencoba 'menangkap' perhatian yang dulu tak diperolehnya. Kebutuhan akan perhatian ini akhirnya bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan narsisme.

Faktor lain adalah karena efek perubahan kesuksesan atau transient effect of success. Sebagai contoh, seorang gadis muda dan sangat cantik mendapat banyak perhatian karena kecantikannya. Namun setelah 20 tahun kemudian, kecantikannya telah memudar dan tidak mendapatkan perhatian yang sama dari orang-orang disekitarnya.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders serta American Psychiatric Association menyebutkan beberapa gejala dan kriteria penyakit narsis, diantaranya:

  • Mementingkan diri sendiri, melebih-lebihkan prestasi dan bakat yang dimiliki, berharap dikenal sebagai orang unggul tanpa ada hasil atau pencapaian tertentu.

  • Terlalu bangga dengan fantasinya dan memiliki tujuan yang tidak realistik tentang keberhasilan yang tiada batas, kekuatan, kepintaran, kecantikan atau kisah cinta yang ideal.
  • Percaya bahwa dirinya sangat spesial dan hanya bisa bergabung atau bergaul dengan orang-orang yang juga memiliki status tinggi.
    Memerlukan pujian yang berlebih ketika melakukan sesuatu
    Memiliki keinginan untuk diberi julukan tertentu
    Bersikap egois dan selalu mengambil keuntungan dari setiap kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya
    Tidak memiliki perasaan empati terhadap sesama
    Selalu merasa iri hati dengan keberhasilan orang lain dan percaya bahwa orang lain juga iri padanya
    Menunjukkan sifat arogan dan merendahkan orang lain
    Mudah terluka, emosional dan memiliki pribadi yang lemah
  • Dari:Hidayatullah.com
READMORE - Narsis, Tanda Alami Gangguan Mental?

70 Persen Asap Rokok Dibagikan untuk Orang Sekitar

Asap rokok mengandung berbagai macam zat yang berbahaya bagi kesehatan. Parahnya dampak negatif rokok bukan hanya dialami si perokok tetapi orang kena asapnya pun bisa menderita. Ini karena 70 persen asap rokok yang dikeluarkan oleh perokok dihirup oleh orang-orang sekitar.

"30 persen asap rokok dihirup sendiri dan sisanya 70 persen diisap oleh orang-orang disekitarnya. Itukan namanya egois," ujar Dr Aulia Sani, SpJP(K), FJCC, FIHA, FAsCC dalam acara temu media Kalahkan Adiksi Nikotin Bersama Klinik Stop Merokok di Sahid Sahirman Memorial Hospital, Rabu (13/o7/2011).

Dr Aulia menuturkan tidak ada keuntungan yang didapat dari merokok. Dalam jangka waktu pendek saja sudah menimbulkan gejala seperti batuk dan tekanan darah yang sedikit meningkat. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang maka bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti jantung dan kanker.

Orang-orang sekitar yang ikut menghisap asap rokok biasa disebut sebagai perokok pasif. Bahaya yang didapatkannya juga tidak sedikit terutama untuk bayi, anak-anak dan ibu hamil. Karenanya efek negatif dari rokok tidak hanya dirasakan oleh si perokok, tapi juga bagi orang-orang disekitarnya.

"Berbagai bahan kimia berbahaya terdapat di dalam rokok seperti nikotin dan tar atau aspal. Jadi bagaimana paru-paru bisa bekerja kalau penuh dengan aspal," ujar dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat Komnas Rokok.

Badan kesehatan dunia (WHO) mengakui di dalam asap rokok terdapat 4.000 bahan kimia yang mana sekitar 250 zat kimia tersebut berbahaya dan 50 jenis lainnya bisa menyebabkan kanker (karsinogen). Pada orang dewasa perilaku merokok bisa menyebabkan risiko bronkitis kronis, emfisema, stroke, penyakit jantung koroner dan kanker paru-paru.

"Angka kejadian penyakit kronis bisa dengan mudah dan cepat dikurangi hanya melalui perubahan gaya hidup. Mengurangi kebiasaan merokok adalah salah satu upaya perubahan perilaku yang membantu mencegah terjadinya penyakit kronis," ungkap Dr Aulia.

Dr Aulia menuturkan umumnya para perokok itu tahu bahwa merokok adalah hal yang berbahaya, tapi ia tidak tahu bagaimana cara berhentinya karena sifat adiksi dari rokok.

Untuk itu jika memang menyayangi diri sendiri dan juga orang-orang disekitar, mulailah untuk mengurangi atau berhenti dari kebiasaan merokok.*
Dari:Hidayatullah.com
READMORE - 70 Persen Asap Rokok Dibagikan untuk Orang Sekitar

Hubungan Seks Remaja Rawan Kanker Serviks

Remaja yang melakukan hubungan seks rawan terkena kanker leher rahim atau serviks penyebab kematian, kata Plt Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau, Dwi Listya Wardhani, di Batam, Selasa (19/7/2011).

Di hadapan empat puluhan remaja dari seluruh kota/kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau dalam kegiatan Orientasi Pusat Informasi Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja Tahap Tegak, Wardhani mengatakan, kanker serviks merupakan kanker yang disebabkan oleh Human Papilloma Virusvirus (HPV). 

"Pria dan wanita yang telah berhubungan intim turut berisiko terinfeksi HPV. Terutama yang pernah melakukan hubungan intim saat remaja (usia belasan tahun)," kata dia di Hotel Pusat Informasi Haji Batam Centre, Batam. 

Menurut Wardhani, usia menimal wanita melakukan hubungan seksual adalah 21 tahun, itupun harus dilakukan setelah ada ikatan pernikahan. 

"Jika dilakukan sebelum usia matang, maka akan sangat beresiko terkena serviks," Tambah Wardhani. 

Berdasarkan penelitian Organisasi kesehatan dunia (WHO), kata Wardhani, 490.000 wanita di seluruh dunia didiagnosa kanker serviks setiap tahun. Bahkan, hampir setengahnya meninggal dunia. 

"Artinya, setiap dua menit, seorang wanita meninggal akibat kanker serviks. Di Indonesia sendiri, satu wanita meninggal setiap jamnya," kata Wardhani.

Hal tersebut, tambah Wardhani, harus menajadi perhaian para remaja agar tidak menjadi korban berikutnya.

"Remaja harus punya sikap. Jangan sampai terjebak pada pergaulan bebas," kata dia.

Survei Komisi Perlindungan Anak pada 2010 terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia menemukan 93 persen remaja pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan oborsi.

"Tak jarang, seorang wanita justru meninggal saat melakukan aborsi. Semua bisa dicegah, kuncinya bentengi diri dan hindari seks bebas," kata Wardhani.*
READMORE - Hubungan Seks Remaja Rawan Kanker Serviks

Gempa Ungkap Kegiatan Mata-mata Israel di Selandia Baru

Gempa Ungkap Kegiatan Mata-mata Israel di Selandia Baru
 
Kamis, 21 Juli 2011 
Hidayatullah.com—Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah juga, demikian kata sebuah pepatah. Sebuah gempa besar yang melanda Kota Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 181 orang tewas pada Februari silam ternyata mengungkap keberadaan jaringan mata-mata Zionis-Israel di negara itu.
Dilaporkan beberapa media asing,  Rabu (20/07/2011), spekulasi mata-mata Zionis-Israel berkembang setelah media massa mengungkap detail korban tewas akibat gempa, yang 3 di antaranya adalah warga Israel. Dari salah seorang warga Israel itu, ditemukan 5 paspor atas namanya.
Sumber Selandia baru mengatakan, teruangkapnya paspor kemungkinan besar seuah misi pencurian identitas. Salah satu korban, Mizrahi, tewas dalam gempa bersama tiga temannya.
Perdana Menteri John Key mengkonfirmasi Ofer Mizrahi membawa lima paspor.
Sementara itu, Paul Buchanan, yang bekerja di Pentagon dan dilatih perwira intelijen Amerika Serikat, mengatakan curiga bahwa salah satu warga Israel itu membawa paspor ganda dan teman-temannya telah meninggalkan Selandia Baru.
Dia percaya warga Israel itu mungkin sedang dalam misi ‘pencurian identitas’.
"Paspor akan digunakan untuk kegiatan yang sangat rahasia, “ujarnya. Bahkan dimungkinkan mencakup pembunuhan.
Sementara itu, pihak kepolisian telah menggambarkan kegiatan mencurigakan dari beberapa kelompok Israel selama dan setelah gempa bumi.
Tiga warga Israel, termasuk Mizrahi, berada di antara 181 orang yang meninggal dalam gempa bumi.
Anggota badan rahasia Selandia Baru dikutip surat kabar Southland Times mengatakan muncul kekhawatiran bahwa agen Israel meretas komputer polisi nasional setelah gempa dan mengakses dokumen-dokumen sangat rahasia.
Meski John Key sempat membatah adanya kegiatan mata-mata ini, ia membenarkan sejumlah laporan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beberapa kali menelfon pada hari gempa terjadi.
Media massa juga memberitakan adanya empat pembicaraan telepon antara Perdana Menteri John Key dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, setelah gempa berlangsung.
Namun, Key yang saat ini tengah di California, Amerika Serikat, menyatakan bahwa mengomentari laporan itu bukan termasuk kepentingan nasional Selandia Baru.*
READMORE - Gempa Ungkap Kegiatan Mata-mata Israel di Selandia Baru

Jumat, 08 Juli 2011

Tata Cara Hidup Islami

Sesungguhnya tata cara kehidupan yang Islami itu dapat mewujudkan masyarakat Islam dengan sejumlah keistimewaan (karakteristik) dan pengaruh yang positif, antara lain:

1.  Tamayyuz (berpenampilan berbeda)
Maksudnya, tata kehidupan dan kebiasaan itu bisa menjadikan setiap individu anggota masyarakat Islam sebagai syakhshiyah (kepribadian) yang memiliki identitas tersendiri. Jelas pendiriannya dan bisa mempertahankan diri untuk tidak meleleh dan larut oleh nilai-nilai dari luar sehingga hilang kepribadiannya, untuk kemudian mengadopsi seluruh tradisinya, tanpa dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak. Inilah yang banyak terjadi di kalangan masyarakat Islam saat ini. Sesudah mereka terlepas dari identitasnya, tahap berikutnya mereka mengikuti budaya dan tata kehidupan masyarakat Barat secara keseluruhan, tanpa menyaring atau menyeleksi. Ini pula yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, "Sungguh kamu akan mengikuti umat suatu kaum sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak niscaya kamu juga ikut masuk ke dalamnnya." Sahabat bertanya, "Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?" Nabi bersabda, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)." (Muttafaqun 'alaih)

2. Al-Wahdah al-'Amaliyah (kesatuan/keseragaman amal)
Sesungguhnya tatacara kehidupan seperti ini akan mampu membentuk kehidupan kaum Muslimin, meskipun tempat mereka berjauhan, bahasa mereka berbeda-beda, darah keturunan mereka juga berlainan. Mereka memiliki keseragaman (kesatuan) amal yang realistis, di samping kesatuan problem, kesatuan prinsip dan pemikiran, yang kesemuanya itu berpangkal  pada kesatuan aqidah dan ibadah mereka kepada Allah.
Maka di mana saja kamu singgah di tengah-tengah kaum Muslimin di bumi mana saja mereka memberi ucapan salam kepadamu dengan kata-kata "Assalaamu Alaikum," dan menyambutmu dengan pemuliaan dan jamuan. Yang demikian itu karena mereka mengikuti adat Islam dalam menghormati tamu, sebagaimana diperintahkan oleh Nabi saw. Apabila kamu makan bersama mereka maka kamu akan mendapatkan mereka memulai makan dengan membaca bismillah, makan dengan tangan kanan, lalu mengakhirinya dengan bacaan hamdallah, dan mereka tidak akan menyuguhkan kepadamu daging babi atau pun khamer.
Dalam tata kehidupan dan tradisi Islam itu, seorang Muslim ke mana saja ia pergi ia merasa seakan bertemu dengan keluarganya dan saudara-saudaranya, tidak ada perbedaan di antara mereka kecuali dalam hal-hal tertentu yang berkenaan dengan kondisi lingkungan.

3. Mudah dan Sederhana
Sesungguhnya tradisi Islam dan tata cara kehidupannya ditegakkan berdasarkan fitrah dan berorientasi kepada kemudahan, menjauhi keberatan dan kesulitan serta jauh dari sikap berlebihan.
Di antara bukti dari kemudahan dan kesederhanaan itu adalah dimudahkannya segala urusan, disedikitkannya beban kewajiban, dan diringankannya dari ketidak-teraturan kerja, waktu dan harta, yang tanpa adanya itu semua akan merugikan masyarakat.
Sesungguhnya tata kehidupan masyarakat Islam dalam berpakaian dan berhias bagi seorang wanita muslimah bisa menghindarkan kerusakan yang mengancam pada setiap masa dan bisa menolak adanya persaingan mode pakaian yang merangsang, seperti menyambung rambut, mencukur dan mengecilkan alis mata, meratakan gigi, operasi kecantikan (plastik) dan lain-lain yang semua itu dilaknat oleh Rasulullah saw, karena termasuk perbuatan yang merubah ciptaan Allah.
Dari:Dr. Syaikh Yusuf Qardhawi

READMORE - Tata Cara Hidup Islami

Nasehat Untuk Pemimpin dan Ulama

Dan sesungguhnya aku wahai para pemimpin, berdiri di sudut ini untuk menerima pahala dari Allah. Aku tidak menghabiskan sisa-sisa hidup  menjadi munafik. Aku tidak akan memamerkan diri ini dengan perkara-perkara yang menipu. Tetapi aku ingin memberitahu satu perkara kepada umat semuanya.
Aku meminta maaf jika mengucapkan sesuatu yang kamu semua tidak suka. Aku ingin semuanya tahu bahwa kekuasaan itu di tangan Allah. Allah memberi kekuasaan kepada siapa saja yang Dia suka. Maka janganlah ada komplotan untuk mendapatkan kekuasaan itu. Dan janganlah ada penipuan untuk sampai kepadanya (kekuasaan). Allah swt telah menceritakan dialog antara Namrud dan Nabi Ibrahim as. Apa firman Allah itu?
“..Janganlah engkau (bingung) (wahai Muhammad) memikirkan orang yang berhujjah membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya) mengenai Tuhannya (sedangkan dia dalam kekafiran), karena Allah memberikan orang itu kuasa pemerintahan (Namrud)..”(Qs.al-Baqarah [2]: 258)
Maka kekuasaan itu Allah berikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Maka jangan kamu melakukan makar terhadap Allah. Dan jangan kamu membuat penipuan terhadap Allah. Karena seseorang tidak akan mendapat kekuasaan di dalam kerajaan Allah kecuali dengan kehendak Allah. Kalau dia seorang yang adil, maka manusia akan mendapat manfaat dengan keadilannya. Dan sekiranya dia seorang yang dzalim, maka dia menjadi bodoh dengan kedzalimannya dan Allah akan menjadikannya buruk di dada-dada  manusia.
Ketika Allah menjadikan dia buruk di dada manusia, rakyat akan membenci setiap orang yang dzalim walaupun dia tidak terlintas membenci pemerintah itu. Aku berkata kepada kamu sekalian, alhamdulillah, telah jelas kebenaran pada firman Allah azza wa jalla berdasarkan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Bagaimana kita hendak menafsirkan firman Allah, “(Dan mereka merancang perkara yang jahat dan Allah juga turut merancang).(Qs.al-Anfal [8]: 30)
 Dan bagaimana kita hendak mentafsirkan firman-firman Allah, “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.”(Qs.ath-Thariq[86]:15-16). Siapa yang terlintas di dalam kepalanya saat ini untuk menjadi pemimpin, aku nasihatkan supaya dia jangan meminta-minta. Akan tetapi menjadi kewajibannya menjadi pemimpin ketika dia sudah dilantik. Sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang dilantik untuk sesuatu perkara, maka dia akan ditolong oleh Allah. Dan barangsiapa yang meminta-minta sesuatu perkara, maka perkara itu akan menjadi beban kepadanya.”(al-Hadis)
Wahai pemimpin, aku ingin katakan satu perkara kepada engkau, “Jika nasib kami bergantung kepada engkau, semoga Allah memberi taufik, menunjukkan kepada kamu jalan yang benar. Dan jika nasib kamu bergantung kepada kami, semoga Allah menolong kamu untuk menanggung beban untuk menghadapi kami”.
Ulama mesti senantiasa berkata benar tidak memandang kepada siapa saja, dan memahami kepentingan dakwahnya. Mengetahui mana yang lebih patut didahulukan atas yang lain. Ada yang mengatakan ulama mestilah non-partisan dan bersikap bebas. Saya katakan, jika ulama tidak berpihak kepada kebenaran dan tidak melahirkannya, bagaimana masyarakat umum bisa mencontoh dan mendukung kebenaran? Maka ulama harus aktif. Ulama harus memberikan motivasi. Harus menunjukkan pembelaannya pada kebenaran. Pihak yang memperjuangkan Islam, dan membrantas kebobrokan kedzaliman pemerintah.
Dari:Dr.Syaikh Mutawalli as-Sya’rawi

READMORE - Nasehat Untuk Pemimpin dan Ulama

PERANG AGAMA

Jika membaca buku-buku semacam karya Sam Harris, The End of Faith; Richard Harris, The God Delusion; dan Christopher Hitchen, The God is not Great-How Religion Poisons Everything, agama terlihat segera mati ditinggalkan para penganutnya. Agama dalam perspektif para penulis ini tidak lebih dari racun yang membunuh para penganutnya. Buku-buku antiagama yang rata-rata best-sellers memang menyajikan gambaran yang serba negatif tentang agama. 
Buku-buku tersebut boleh dikatakan sebagai reaksi balik terhadap semakin meluasnya kebangkitan kembali agama. Sudah banyak penelitian dan penerbitan yang mengungkapkan gejala ini. Salah satu yang paling akhir adalah laporan khusus majalah The Economist, 3-9 November lalu dengan tajuk 'The New Wars of Religion'.
Laporan The Economist menyimpulkan, agama tidak surut apalagi mati karena modernisasi dan sekularisasi. Memang, di tengah deru modernisasi dan sekularisasi, agama sering dipandang banyak politisi, birokrat pemerintahan, dan bahkan akademisi Barat sebagai tidak relevan. Agama dalam perspektif mereka kian tidak relevan dengan kehidupan publik. Dalam istilah guru besar dan teolog Universitas Harvard, Harvey Cox, dalam bukunya yang terkenal The Secular City, agama tidak punya tempat sama sekali dalam kehidupan kota sekuler.
Tetapi, berbeda dengan pandangan tersebut, sejak 1970-an agama ternyata kembali ke pentas berbagai lapangan kehidupan termasuk politik, sosial, budaya, ekonomi, dan seterusnya. Sekali lagi meminjam istilah Harvey Cox yang terpaksa merevisi teorinya, agama telah kembali ke kota sekuler. Pada 2005 sekitar 73 persen umat manusia di seluruh dunia memeluk salah satu dari empat agama besar; Kristiani, Islam, Hindu, dan Budha; menurut prediksi jumlahnya meningkat mencapai sekitar 80 persen pada 2050.
Titik balik kebangkitan agama tersebut menurut Timothy Shah, seorang ahli pada The Council on Foreign Scholars, New York, adalah Perang Enam Hari antara negara-negara Arab dan Israel pada 1967. Perang ini menandai kekalahan total pan-Arabisme sekuler, yang pada gilirannya memberikan momentum bagi kebangkitan gerakan Islamis radikal yang mengerahkan segenap upaya untuk menumbangkan rezim-rezim sekuler di Dunia Arab; usaha yang sampai sekarang belum banyak berhasil.
Sebaliknya bagi penganut agama Yahudi, kemenangan Israel dalam Perang 1967 itu merupakan sebuah 'mukjizat' yang menunjukkan adanya campur tangan Tuhan untuk membantu mereka. Karena itu, menurut mereka, Tuhan dan agama sama sekali tidak lagi bisa dikesampingkan dalam mempertahankan eksistensi negara Israel. Pandangan dan anggapan eskatologis ini memberikan momentum bagi kebangkitan kelompok ortodoks, ultra-ortodoks, fundamentalis, dan radikal di kalangan penganut agama Yahudi.
Selanjutnya sejak 1970-an adalah masa-masa kebangkitan agama secara global. Amerika Serikat memilih Jimmy Carter sebagai Presiden yang dengan bangga menyatakan dirinya sebagai 'born-again Christian', yang diikuti Ronald Reagan yang dengan mengutip Perjanjian Baru menyatakan Amerika sebagai 'sebuah kota di puncak bukit, yang menerangi berbagai penjuru'. Dan terakhir sekali adalah George W Bush yang memercayai dirinya tidak lebih daripada sekadar menjalankan berbagai kebijakan Tuhan melalui dirinya.
Kebangkitan agama tersebut jelas menimbulkan berbagai dampak dan implikasi pula dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak hal positif dalam kebangkitan agama itu; tetapi juga terdapat banyak ekses, yang oleh The Economist disebut sebagai 'perang baru agama'. Sepanjang dua dasawarsa terakhir kian banyak terjadi kekerasan dan perang atas nama agama, sejak dari Nigeria ke Srilanka, Filipina Selatan dan Thailand Selatan; dari Serbia dan Bosnia terus Chechnya ke Palestina-Israel, Irak dan Afghanistan.
Memang, agama dalam banyak kasus tidak dengan sendirinya menjadi penyebab dan sumber dari 'perang baru agama' tersebut. Berkat dialog-dialog antaragama yang kian intens, 'perang baru agama' karena motif keagamaan sebagian besarnya dapat dicegah. Sebaliknya, apa yang disebut 'perang baru agama' tersebut lebih bersumber pada masalah politik dan ekonomi yang tidak pernah terselesaikan. Dan keadaannya menjadi lebih rumit, rawan, dan eksplosif ketika para politisi dalam menghadapi pertikaian-pertikaian politik tersebut mencampurbaurkan kebijakan politiknya dengan semangat keagamaan.
'Perang baru agama' bisa menjadi sangat eksplosif dan menjerumuskan masyarakat dunia ke ambang pertumpahan darah yang sulit diakhiri. Karena itulah penciptaan dan pemberdayaan tatanan dunia baru yang lebih berimbang dan adil menjadi kebutuhan mendesak. Reformasi PBB dan badan-badan internasional lainnya merupakan agenda dan tanggung jawab bersama, yang meski sangat sulit mesti diupayakan terus.

READMORE - PERANG AGAMA

Carilah Hidayah Rabbmu

Abu Dzar yang menyambut seruan dakwah Nabi saw, sesudah Nabi menyebarkan kepadanya dengan sederhana lagi mudah seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Sesudah itu Abu Dzar r.hu langsung pergi ke bukit Shafa, lalu berteriak, "Hai orang-orang Quraiys, aku telah mengakui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".  
Kalimat sangat menyengat perasaan pemimpin yang melampaui batas dari kalangan orang-orang kafir Quraiys. Mereka berdatangan kepadanya dari segala penjuru dan langsung memukulinya beramai-ramai, hinga hampir saja Abu Dzar tak sadarkan diri dan tubuhnya bermandikan darah. Rasul pun datang kepadanya, sedang tubuhnya penuh dengan darah, karena luka pukulan mereka dan keadaannya seakan-akan mengatakan, "Jika memang menyenangkan hatimu apa yang telah dilakukan oleh orang yang dengki kepada kami, maka luka ini tidak lah terasa sakit, jika engkau merasa ridha kepadaku". Rasulullah saw tersenyum dan bersabda, "Aku tidak memerintahkan ini kepadamu". Apa artinya pembelaan seperti ini? Apa artinya pengobanan seperti ini? Selanjutnya, Nabi saw bersabda, "Sekarang pulanglah ke kampung kaummu. Sampai bersua nanti!
Abu Dzar r.hu pulang dan menebarkan hidayah kepada kaumnya, karena sesungguhnya seorang muslim pada hari dia masuk Islam, tujaun agar dengan Dia memberi petunjuk kepada banyak orang, karena manusia sangat membutuhkan seruan dakwahnya.  "Engkau adalah perbendaharaan mutiara, dan pertama dalam kemelut dunia, meskipun mereka tidak mengenalmu. Engkau adalah dambaan semua generasi, mereka merindukan seruanmu yang tinggi, meskipun tidak mendengarmu". 
Abu Dzar bangkit dan mengumpulkan semua kabilahnya di padang sahara, lalu berkata kepada mereka : "Darahku haram bagi darahmu, tubuhku haram bagi tubuhmu, dan harta haram bagi hartamu, sebelum kamu beriman kepada Allah", tegas Abu Dzar. Selanjutnya, Abu Dzar menerankgan agama Islam, seperti yang didengarnya dari Rasulullah saw.
Belum lagi ia tidur pada malam itu telah beriman sebanyak 70 keluarga berikut dengan kaum wanita, kaum pria, dan anak-anak mereka. Selanjutnya, Abu Dzar menghadap ke rah sebuah pohon yang ada di sana dan dia mulai bermeditasi, karena sesungguhnya dia belum mengetahui shalat dan memang shalat waktu itu belum difardhukan.
Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, tiba-tiba datang Abu Dzar di barisan paling depan dari kaummnya yang telah beriman. Para shahabat pun keluar. Mereka mengira bahwa di sana ada pasukan musuh yang datang dengan maksud menyerang kota Madinah. Nabi saw keluar pula bersama dengan para shahabatnya dan ternyata yang datang adalah Abu Dzar, seorang lelaki yang hidup atas dasar kalimah "laa ilaaha illalloh", dan bersujud kepada Tuhan yang telah menurunkan kalimah "laa ilaaha illalloh", sed ang dibelakangnya adalah para muridnya yang telah berhasil diislamkannya.
Setelah melihat kedatangan peringatan dini yang membawa berita gembira alias Abu Dzar r.hu ini, Rasulullah saw, tersenyum, "Tiada seorang pun yang bernaung di kolong langit dan bercokol di atas hamparan bumi ini lebh jujur ucapannya, selain Abu Dzar", ujar Rasulullah saw.
Jadi, penyebab yang paling besar bagi seorang hamba untuk meraih hidayah ialah bila mempunyai keinginan yang keras untuk mendapatkannya sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya, "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepad mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar berserta orang-orang yang berbuat baik". (Qs. al-Ankabut [29]: 69).
Dari:Dr. Aidh Abdullah al-Qarni

READMORE - Carilah Hidayah Rabbmu

KEARIFAN LOKAL

Akhir-akhir ini degradasi moralitas sosial mewabah akut menjangkiti masyarakat bangsa. Kebiadaban nyaris melekat dalam hidup keseharian kita. Ambil contoh, kekerasan seakan-akan telah menjadi jalan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi.
Dalam konteks degradasi moral itu pula, kita melihat maraknya “tradisi” korupsi, aji mumpungdan sejenisnya yang dilakukan beberapa oknum pejabat dan pengusaha yang hingga saat ini belum mengalami penurunan berarti. Bancaan uang negara dan rakyat terus dilakukan oleh tikus-tikus penjahat berkrah putih ini. Memperkokoh kondisi ini, politik kekuasaan dalam beragam bentuknya menjadi model anutan banyak kalangan di sembarang lembaga dan organisasi. Dengan kekuasaan yang dibungkus berbagai label, mereka melakukan hampir segalanya; merugikan rakyat dan mengeruk keuntungan untuk diri sendiri.
Menyikapi kondisi Indonesia kekinian, kita mungkin agak berlebihan jika menganggap negara ini negara anarkis, negara keserakahan, dan negara kekuasaan. Namun realitas di sekitar kita hampir seutuhnya mengarah kepada anggapan itu. Persoalan ini yang seharusnya dibincang dengan serius untuk menata kembali keindonesiaan kita.
Indonesia Masa Lalu
Keragaman bangsa Indonesia dari sisi etnis, suku, budaya dan lainnya sejatinya juga menunjuk kepada karaktreristik masing-masing. Pada saat yang sama, kekhasan itu pada umumnya memiliki kearifan yang pada masa-masa lalu menjadi salah satu sumber nilai dan inspirasi dalam merajut dan menapaki kehidupan mereka.
Sejarah menunjukkan, masing-masing etnis dan suku memiliki kearifan lokal sendiri. Misalnya saja (untuk tidak menyebut yang ada pada seluruh suku dan etnis di Indonesia), suku Batak kental dengan keterbukaan, Jawa nyaris identik dengan kehalusan, suku Madura memiliki harga diri yang tinggi, dan etnis Cina terkenal dengan keuletan. Lebih dari itu, masing-masing memiliki keakraban dan keramahan dengan lingkungan alam yang mengitari mereka.
Kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan mereka. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat. Artinya, sampai batas tertentu ada nilai-nilai perenial yang berakar kuat pada setiap aspek lokalitas budaya ini. Semua, terlepas dari perbedaan intensitasnya, mengeram visi terciptanya kehidupan bermartabat, sejahtera dan damai. Dalam bingkai kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi, dan berkoeksistensi satu dengan yang lain.
Namun dari waktu ke waktu nilai-nilai luhur itu mulai meredup, memudar, kehilangan makna substantifnya. Lalu yang tertinggal hanya kulit permukaan semata, menjadi simbol yang tanpa arti. Bahkan akhir-akhir ini budaya masyarakat hampir secara keseluruhan mengalami reduksi, menampakkan diri sekadar pajangan yang sarat formalitas. Kehadirannya tak lebih untuk komersialisasi dan mengeruk keuntungan.
Tentu banyak faktor yang membuat kearifan lokal dan budaya masyarakat secara umum, kehilangan geliat kekuatannya. Selain kekurangmampuan masyarakat dalam memaknai secara kreatif dan kontekstual kearifan lokal mereka, faktor lainnya adalah pragmatisme dan keserakahan yang biasanya dimulai dari sebagian elit masyarakat. Kepentingan subyektif diri mengantarkan mereka untuk “memanfaatkan” kearifan lokal. Mereka menggunakannya secara artifisial, tapi sekaligus menghancur-leburkan nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Pada gilirannya, masyarakat luas yang struktur dan hubungannnya masih bersifat patron-client “meneladani” sikap dan perilaku elit mereka.
Pada sisi itu bencana budaya mulai berkecambah dalam masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak mampu lagi melihat, apalagi menyelesaikan, secara arif hanpir persoalan yang menimpa mereka. Krisis demi krisis lalu menjadi bagian hidup bangsa.
Rekonstruksi Kearifan Lokal
Kendati tidak menjamin persoalan akan selesai, rekonstruksi kearifan lokal sangat niscaya untuk dilakukan. Masyarakat Indonesia sudah sepatutnya untuk kembali kepada jati diri mereka melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai luhur budaya mereka.
Dalam kerangka itu, upaya yang perlu dilakukan adalah menguak makna substantif kearifan lokal. Sebagai misal, keterbukaan dikembangkan dan kontekstualisasikan menjadi kejujuran dan seabreg nilai turunannya yang lain. Kehalusan diformulasi sebagai keramahtamahan yang tulus. Harga diri diletakkan dalam upaya pengembangan prestasi; dan demikian seterusnya. Pada saat yang sama, hasil rekonstruksi ini perlu dibumikan dan disebarluaskan ke dalam seluruh masyarakat sehingga menjadi identitas kokoh bangsa, bukan sekadar menjadi identitas suku atau masyarakat tertentu.
Untuk itu, sebuah ketulusan, memang, perlu dijadikan modal dasar bagi segenap unsur bangsa. Ketulusan untuk mengakui kelemahan diri masing-masing, dan ketulusan untuk membuang egoisme, keserakahan, serta mau berbagi dengan yang lain sebagai entitas dari bangsa yang sama. Para elit di berbagai tingkatan perlu menjadi garda depan, bukan dalam ucapan, tapi dalam praksis konkret untuk memulai.
Dari ketulusan, seluruh elemen bangsa, masing-masing lalu merajut kebhinnekaan, menjadikannya untaian yang kokoh dan indah. Dengan untaian yang menyatukan satu dengan yang lain, mereka  bersama-sama menyelami kehidupan secara arif dan bijak. Di sana pijar-pijar lampu kehidupan pasti akan menerangi menuju kehidupan yang lebih baik, sejahtera, damai dan penuh keadilan©.
Dari:Abd A’la
READMORE - KEARIFAN LOKAL

Dakwah yang Bijak

Dakwah adalah ajakan kebaikan dengan cara yang terbaik. Ia adalah upaya memberi hidayah berupa petunjuk. Hidayah seakar dengan kata hadiah. Yakni sesuatu yang seyogianya baik atau bermanfaat, yang dikemas dengan indah dan diserahkan dengan lemah lembut. Sejak dini, Nabi Muhammad saw diingatkan al-qur’an bahwa “Sekiranya engkau berucap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Qs. Ali Imran [3]: 159).
Berucap kasar menggambarkan sisi luar manusia, dan berhati keras menunjuk sisi dalamnya. Keduanya, “berucap kasar” dan “berhati keras”, perlu disingkirkan secara bersamaan, karena boleh jadi ada yang berucap kasar tapi hatinya lembut, atau ucapannya manis tapi hatinya busuk. Yang berdakwah menggabungkan perilaku yang sopan, kata-kata yang indah, sekaligus hati yang luhur, penuh kasih, walau terhadap sasaran yang durhaka dan kejam.
Informasi yang diberikan bukan saja harus benar tapi juga bermanfaat bagi sasaran. Itulah cermin kasih dalam berdakwah. Sedang kata-kata yang indah, halus, dan lemah lembut merupakan kunci kesediaan sasaran mendengar ajakan.
Sekali lagi, ucapan harus bermanfaat bagi yang mendengarnya. Jika tidak, pengucap dan pendengarnya merugi dalam mengucapkan atau mendengarnya. Paling sedikit kerugian waktu dan energi. Bahkan boleh jadi kerugian berupa dampak yang dihasilkan apa yang didengar itu. Karena mungkin saja ucapan itu mengubah pikiran pendengarnya yang telah benar, atau memberi ide keliru padanya.
Terdapat sekian banyak tuntunan kitab suci menyangkut kriteria kata-kata yang diinformasikan, antara lain baligha (Qs.an-Nisa [4]: 63). Dari sini seorang da’iy dinamai juga mubaligh. Kata itu mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain dengan cukup. Seorang yang pandai menyusun kata, sehingga mampu menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup, dinamai mubaligh. Ciri ini baru bisa terwujud bila seluruh pesan yang hendak disampaikannya tertampung dalam rangkaian kata-katanya. Tidak bertele-tele yang membosankan, tidak pula singkat yang mengaburkan. Tidak menggunakan kata yang asing di telinga pendengarnya, tidak juga berat di lidah pengucapnya.
Kata lain yang digunakan al-qur’an untuk menyampaikan informasi yang baik adalah sadida (Qs.al-Ahzab [33]: 70). Kata ini mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ini berarti kritik yang disampaikan hendaknya disertai dengan usul perbaikan, yakni kritik haruslah yang membangun. Kata sadida juga berarti tepat. Seseorang bukan saja dituntut untuk menyampaikan yang benar dan baik susunan kalimatnya, tetapi juga harus tepat waktu dan sasarannya.
“Apabila Anda berkata kepada teman Anda pada hari Jum’at saat khatib berkhutbah: ‘Diamlah! dengarkan khutbah’, maka Anda telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.” Ini bukan karena kandungan larangan itu salah, tetapi sasaran dan waktunya tidak tepat. Jika demikian, tidak semua harus disampaikan. Pilihlah yang bermanfaat dan perhatikan pula sasaran. Karena ada yang pandai, yang bodoh, atau anak kecil, dan dewasa. Karena itu paparkanlah masalah yang Anda akan informasikan kepada tuntunan agama. Kalau kandungannya sudah benar, maka perhatikanlah dampaknya berkaitan dengan waktu dan masyarakat. Kalau ia tidak menimbulkan dampak negatif, maka paparkan lagi masalah itu kepada pertimbangan nalar. Kalau nalar memperkenankannya, maka Anda boleh menyampaikannya, kepada umum–atau orang-orang tertentu saja, bila penyampaian kepada umum dapat menimbulkan dampak negatif atau kesalah pahaman.
Selanjutnya ketika Nabi Musa dan Harun as menghadapi penguasa kejam Fir’aun, mereka berdua dipesan Allah, agar menyampaikan dengan Qaulaa Layyina (Qs.Thaha [20]: 44) yakni lemah lembut. Ini bukan berarti tidak menyampaikan kebenaran atau menyembunyikannya. Tetapi kebenaran yang disampaikan, bahkan kritik yang dilontarkan, hendaknya tidak menyinggung perasaan, apalagi menimbulkan amarah. Demikian sekelumit tuntunan al-qur’an menyangkut dakwah yang baik. Wa-llahu a’lam.
 Dari:Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab
READMORE - Dakwah yang Bijak

Hari Raya Fitri

Kaum muslimin yang berpuasa –dalam pengertian tidak hanya mengekang nafsu makan dan kelamin— sudah sepantasnya merayakan hari raya Fitri. Memang inilah hari raya mereka.
Setelah sebulan penuh di bulan suci, mensucikan diri dan berlatih menguasai diri, sudah sepantasnya mereka bergembira ria dalam syukur hamba yang 'menang'. Apakah syukur itu diungkapkan dalam ritual mudik, saling mengunjungi, atau yang lain.
 Muslim yang paling muslim, menurut Nabi Muhammad saw, ialah man salimal muslimuuna min lisaanihi wayadihi, orang yang lisan dan tangannya tidak pernah menyakiti sesama. Mukmin sejati ialah man aminannaasu min lisaanihi wayadihi, orang yang lisan dan tangannya tidak menyakiti orang-orang lain. Orang mukmin bukanlah biththa'aani walaa alla'aani walal faakhisyi walal badziyy, orang yang suka melukai hati; bukan tukang melaknati; bukan orang yang suka omong kasar atau bicara kotor.
Menurut kenyataan, menjaga atau menahan mulut untuk tidak makan, tidak minum, atau bahkan tidak merokok, jauh lebih mudah dari pada menjaga dan menahannya dari omong kasar yang menyakitkan atau bicara kotor. Menjaga dan menahan tangan untuk tidak menyentuh makanan atau minuman, jauh lebih ringan dari menjaga dan menahannya dari melukai sesama. Ini semua dibuktikan oleh adanya –kalau tidak banyaknya-- orang muslim yang dalam keadaan puasa (tidak makan tidak minum), tangan dan mulutnya tidak berhenti menyakiti sesama.
Bahkan kita menyaksikan ada sementara mereka yang bersemangat menegakkan kebenaran dan beramar-makruf-nahimunkar, tak berdaya menahan mulut atau tangan kasarnya untuk melukai orang yang mereka anggap tidak benar dan munkar. Seolah-olah mereka sudah tahu persis bahwa di sisi Allah kedudukan mereka jauh lebih dekat dari pada orang yang mereka lukai. Mungkin mereka inilah orang-orang yang --menurut istilahnya rektor UMM, Muhadjir Effendy-- termasuk kaum fakir moral yang perlu disantuni.
Nah, kemarin, orang-orang muslim tanpa kecuali, digembleng dalam kesucian bulan Ramadlan untuk menjadi mukmin yang kuat. Mukmin yang mampu menahan bahkan menguasai diri sendiri. Tidak mudah ditunggangi nafsu amarah maupun syahwat hewani. Sehingga ketika usai penggemblengan, mereka –terutama yang belum mati hatinya-- menang dan dapat mencapai predikat takwa sebagai buah puasa yang sesungguhnya (seperti disebutkan dalam Qs.al-Baqarah [2]: 183) dan karenanya pantas bergembira, merayakan kefitriannya kembali.
Mereka yang berpredikat takwa, antara lain disebutkan dalam ayat-ayat 134-135 surah  Ali Imran sebagai orang-orang yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit; yang mampu menahan amarah; yang pemaaf terhadap orang –Allah menyukai mereka yang berbuat kebajikan—dan apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan tidak terus mengulangi perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. Mereka inilah yang mendapatkan sebaik-baik pahala: maghfirah dari Allah dan surga.
Mudah-mudahan, di samping mendapatkan kekuatan diri sebagai hasil latihan dan gemblengan di bulan suci Ramadlan kemarin, kita mendapatkan ampunan Allah sebagai balasan puasa dan ibadah kita yang ikhlas lillahi ta'alaa. Keduanya bisalah kiranya menjadi modal bagi kita untuk memperbaiki kehidupan kita selanjutnya. Untuk itu marilah kita awali dengan silaturahmi dan saling memaafkan, agar sempurnalah kesucian diri ini. Diampuni Allah dan dimaafkan oleh sesama hamba Allah.
Selamat Hari Raya Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Wakullu 'aamin wa antum bikhair..
Dari:A. Mustofa Bisri

READMORE - Hari Raya Fitri

Mata Yang Tidak Menangis di Hari Kiamat

Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah swt. al-Qur’an menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah al-Ghasyiyah ayat 1-16. Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.
Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menangis pada Hari Kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.” Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?
Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di tempat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca al-qur’an. Ayat yang dibaca itu berbunyi: “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik.” (Qs al-Hadid [57]: 16).
Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pernah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah swt, sehingga di abad kesebelas Hijriah dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tashawwuf.
Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.
Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah”.
Nabi Yusuf as mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah swt.
Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh al-qur’an sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti.

READMORE - Mata Yang Tidak Menangis di Hari Kiamat

Lain Dulu, Lain Sekarang

Ketika bangsa Indonesia berdiri, ada sebuah hal yang sangat menarik, yaitu istilah "merdeka". Dengan kata yang digunakan dalam penggunaan berbeda-beda,maka didapat beberapa arti dan makna. Kata merdeka berarti lepas atau bebas.
Sekarang ini, kata merdeka itu juga digunakan oleh pihak keamanan, seperti merdeka dari penahanan atau bisa diartikan bebas. Namun, kata merdeka lebih dari bebas. Bagi sebuah bangsa, merdeka berarti lepas dari penjajahan. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kepada kemandirian politik, ekonomi, mau pun lain-lainnya.
Merdeka secara ekonomi, berarti sama sekali tidak bergantung kepada negara lain dalam segala hal. Secara politik, berarti lepas dari penjajahan pihak lain. Contohnya, lepasnya Indonesia dari pen-jajahan kolonial Belanda sehingga bangsa kita mampu segera mengembangkan budaya politik, ekonomi, dan lainnya sendiri.
Kalimat seperti negara A mampu memelihara kemerdekaan yang dicapainya, baik melalui perang maupun dengan cara berunding, merujuk kepada aspek-aspek kemerdekaan itu. Inilah yang digunakan oleh Undang-Undang Dasar 1945 kita.
Ketika almarhum Raja Ali Haji dari Riau mengubah buku Tata Bahasa Melayu, maka dengan sengaja ia telah "memerdekakan" bahasa Melayu dari bahasa Belanda. Buku ini menjadi cikal-bakal lahirnya bahasa Indonesia. Lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca, menjadi cikal-bakal dari tumbuhnya kesadaran suku-suku yang ada di nusantara untuk membangun sebuah ikatan kebangsaan.
Hal ini terlihat dengan berdirinya Boedi Oetomo (BO), yang menjadi salah satu bangunan inti kebangsaan kita. Meski demikian, semangat menjadi satu bangsa ini telah tampak dalam sejarah kita sejak abad ke-8. Padahal, Kerajaan Majapahit sendiri baru lahir di tahun 1293 Masehi.
Pada abad ke-8 Masehi, seorang agamawan Budha dari Tiongkok bernama Fahien telah melaporkan adanya semangat menghargai perbedaan di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Dua abad setelahnya, orang-orang Sriwijaya menyerbu Pulau Jawa melalui pelabuhan lama Pekalongan. Dalam perjalanan mendaki Gunung Dieng, mereka ditemui oleh orang-orang Kalingga Hindu.
Orang-orang Hindu itu tidak diapa-apakan. Pasukan Sriwijaya tersebut melanjutkan sampai di daerah Muntilan,yang sekarang ini menjadi bagian Kabupaten Magelang. Di sana mereka membangun candi yang dinamakan Borobudur. Sebagian mereka tinggal di Borobudur dan sebagian lagi menuju kawasan Yogyakarta sekarang.
Di kawasan baru itu, mereka mendirikan Kerajaan Kalingga Budha dan mendirikan Prambanan, sebuah candi Hindu-Budha yang segera dimusuhi oleh orang Hindu maupun orang Budha. Mereka menganggapnya sebagai agama "campur- aduk". Di bawah pimpinan Prabu Darmawangsa, mereka berpindah dari Prambanan ke Kediri.
Dua abad kemudian, mereka berpindah lagi ke Kerajaan Singasari di Utara kota Malang sekarang. Di sana orang-orang Hindu-Budha itu mendirikan Kerajaan Majapahit di dukung oleh angkatan laut Cina, yang waktu itu hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Dari sini kita dapat melihat bahwa asas kebangsaan itu tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Namun, sekarang lahir kelompok-kelompok fundamentalis yang mengajak kita semua meninggalkan semangat kebangsaan yang telah mempersatukan kita sebagai bangsa sejak berabad-abad yang lalu. Sebenarnya, setelah dikuatkan oleh UUD 1945, kita telah bertekad mencapai kemerdekaan politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.
Hal ini seharusnya senantiasa kita ingat sebagai bagian penting dari sejarah kita sebagai bangsa. Inilah modal bangsa kita untuk merengkuh kehidupan masa depan, bukan? (Mei 2009)
Dari:KH. Abdurrahman Wahid

READMORE - Lain Dulu, Lain Sekarang

BIRRUL WALIDAIN

Salah satu nilai yang menunjukkan kecintaan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah dan rasul-Nya ialah sikap baiknya kepada ayah dan bundanya. Hal ini penting untuk disampaikan kepada kaum muslimin, mengingat Allah sangat menekankan dengan sikap dan akhlak “Birrul Walidain” memuliakan kedua orangtua. Artinya selalu bersikap hormat kepada ayah dan ibu. Memuliakan kedua orangtua tidak cukup hanya dengan hati. Memuliakan kedua orangtua selain dengan sikap cinta dan hormat juga harus disumpurnakan dengan perlakuan baik kepada kedua orangtua.
Untuk bisa menghormati ibu dan ayah, seorang anak manusia perlu mengenang serta menghayati cinta kasih serta perlakuan ayah dan ibu kapada sang putera. Bagaimana seorang anak selama 9 bulan berada dalam kandungan ibunda. Bila tiba saatnya melahirkan sang ibu berjuang dengan penuh kesungguhan untuk melahirkan sang anak, setelah anak lahir lalu disusuinya dengan penuh rasa kasih sayang sampai tiba saatnya untuk disapih.
Sang anak kencing di haribaan ibunda, sang ibu tidak marah bahkan si anak yang masih bayi, sang ibu tidak jijik membersihkan dan membunag kotoran sang anak. Ditambah lagi ketekunan ibu dan ayah mengasuh, mulai dari ayah yang mencarikan nafkah serta biaya belajar dan lain-lain. Juga ibu yang setiap hari memasak untuk sang anak tanpa mengharapkan balasan. Jadi, kalau ada hutang yang tidak mampu aku bayar adalah hutangku, wahai ibu. Kalau ada hutang yang tak mampu aku bayar, hutangku wahai ayah.
Penghayatan seperti itu kepada jasa-jasa ibu dan ayah perlu menjadi kenangan indah, dan lebih dari itu menjadi bahan renungan agar hati ini tidak kering. Menghayati dan merenungkan jasa dan kasih sayang ibu dan ayah yang dilakukan oleh akal sehat dan hati yang jernih akan menumbuhkan pencerahan di dalam kalbu.
Pencerahan itu berupa kecerdasan bahwa diri ini, puteranya ibu dan puteranya ayah. Ada kata-kata mutiara yang berbunyi “Sesekali manusia itu perlu merenung dengan cerdas siapa dirinya. Kemudian ia mengaku kepada Allah bahwa ia putera ibunya dan putera ayahnya. Dalam melapor itu ia berbisik (berdoa) dengan hati yang dalam, agar Allah mengampuni ayah bundanya, serta memohon kepada Allah agar Allah memberikan kasih sayang-Nya kepada ibu dan ayah sebagaimana ayah bunda dulu mencurahkan kasih sayangnya yang utuh pada waktu sang putera masih kecil.“
Renungan seperti itu kalau sering-sering dilakukan akan membuat sang putera mendapat kenikmatan “hakiki” karena ia merasa puteranya ibu dan merasa puteranya ayah. Itulah nikmat dan kalau dihayati secara mendalam akan membuahkan kebahagiaan.
Untuk itu kita baca dengan hati yang khusuk doa “rabbighfirli wa liwalidaiya warham huma kama rabbayaani shaghiira”. Dibaca dan ditunjukkan kepada Allah dengan kesadaran kepada diri puteranya ibu dan puteranya ayah.
Hal ini penting menjadi bahan renungan agar kita sebagai putera dapat memberikan segala yang bernilai kepada ibu dan ayah.
Bahkan ada seorang anak yang biasa tampil di atas mimbar, lebih merasa percaya diri ketika ia tampil dengan yakin bahwa dirinya putera ibunya dan putera ayahnya. Bahwa diri adalah kelanjutan denyut darah dari ibu dan ayah. Perasaan-perasaan merasa bahwa diri ini seorang hamba Allah yang merupakan kelangsungan dari sejarahnya ayah dan ibu akan membuat sesibilitas dan penghayatan benar-benar menemukan hidup yang nikmat dan pada puncaknya menemukan “madunya kebahagiaan” bahagia karena sadar bahwa diri ini puteranya ibu dan puteranya ayah.
Kecerdasan meras berhutan budi kepada ayah bunda itu akan lebih cerdas lagi kalau bisa menumbuhkan ras “terima kasih” yang dalam. Rasa terima kasih itulah yang seharusnya menimbulkan sikap akan melakukan yang terbaik kepada ayah dan ibu.
Ada anak ingin memperlakukan ibu dan ayahnya dengan total sebagaiman ia “ingin melakukannya”.  itu memang baik. Perlakuan yang terbaik “menurut ia” benar-benar ia lakukan. Tapi itu sebenarnya belum cukup, masih ada yang lebih baik daripada itu. Yaitu seorang anak berbuat bukan sekedar melakukan “apa yang ingin ia persembahkan” lebih dari itu ia berbuat sesuai dnegan apa yang ibu dan ayah inginkan dari kita.
Kadang seorang anak merasa berbuat yang terbaik padahal itu tidak diinginkan oleh ibu dan ayah. Itu perlakuan yang kurang bermakna. Yang baik, seorang anak harus pandai membaca hati kedua orangtua. Kalau tidak, lebih baik ditanyakan langsung, apa yang ibu dan ayah inginkan dari kita.
Dari:KH.D. Zawawi Imron

READMORE - BIRRUL WALIDAIN

Jangan Jadi Jahil Murakab

Munculnya berbagai madzhab dalam Islam seharusnya menjadikan umat Islam semakin cerdas dalam memahami khazanah perbedaan yang ada. Pada dasarnya, semua  ulama menginginkan kemajuan Islam, walaupun terkadang mereka terkesan lugas. Oleh karena itu saya tetap menghormati mereka.
Sebagai pengikut madzhab Imam Syafi'i yang mempunyai komitmen kuat dalam memegang teguh kepada al-qur’an dan sunnah, kita juga harus banyak belajar tanpa jemu untuk ilmu pengetahuan diniah. Orang bodoh yang tidak mau belajar itu namanya jahil murakkab (bodoh yang bertumpuk-tumpuk)
Salah satu alasan mengapa saya banyak menulis buku tentang Imam Syafi'i, yakni karena kekaguman saya  atas perjuangan beliau dalam memajukan Islam melalui ilmu. Beliau adalah ulama yang luas ilmunya, serta ikhlas dalam mengajarkan dan menuliskannya. Sedangkan kapasitas keilmuannya tidak diragukan lagi.
Banyak yang bertanya kepada saya, bagaimana bisa menjadi ulama besar dengan karya yang banyak pula. Saya selalu menjawab bahwa ilmu itu adalah suatu yang mulia dan agung. Butuh totalitas dalam belajar. Jangan menyia-nyiakan sedikit pun waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Nabi Muhammad saw juga mengajarkan kepada kita, “Carilah ilmu dari ayunan sampai liang lahad”.
Untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, hendaklah tidak pelit dalam mengajarkan ilmu diniah kepada orang lain. Dengan begitu Allah juga akan menganugerahkan ilmu yang banyak. Azzam saya, sampai akhir hayat nanti akan selalu belajar ilmu syariat Islam dan mengajarkannya.

Islam Adalah Agama Kasih-Sayang
Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Menghormati hak-hak semua makhluk yang diciptakan oleh Allah azza wa jalla. Al-qur’an memuat semua itu dengan sempurna. Jika kemudian ada tuduhan bahwa Islam sumber dari kekerasan, itu merupakan tuduhan yang tidak beralasan.
Dalam kitab suci al-qur’an diterangkan bagaimana seharusnya seseorang menjadi baik melalui keluarga terdekatnya. Tidak boleh ada kedhaliman di antara mereka atas lainnya. Tidak boleh ada kata-kata kasar, menghina dan mencerca. Sungguh ini ajaran yang indah dan sempurna
Nabi Muhammad saw juga memberikan motivasi kepada umatnya, bahwa manusia terbaik adalah manusia yang paling baik  terhadap keluarganya. Barangsiapa yang tidak menyayangi anak dan istrinya, sungguh dia jauh dari ajaran Islam sebenarnya.
Dinul Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia secara damai. Islam tidak pernah masuk dengan cara kekerasan atau pemaksaan. Islam sangat menghargai toleransi dan menjunjung tinggi adanya perbedaan di tengah masyarakat.
Salah satu contohnya di Indonesia. Islam masuk ke Indonesia secara damai. Tidak ada peperangan atau pertumpahan darah. Begitu juga dengan masuknya Islam ke Brunai, Malaysia, Thailand, dan Philipina. Semuanya masuk dengan damai dan penuh kasih-sayang.
Menyebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia dengan cara damai, menunjukkan bahwa dakwah Islam adalah dakwah perdamaian. Hal inilah yang perlu dikobarkan dan dilestarikan kembali di tengah masyarakat.
Berbagai konflik yang terjadi di negara-negara Islam dapat diatasi dengan cara membangun persaudaraan dan mengembangkan semangat saling menghargai antar sesama. Dan kembali kepada Allah dengan menjadikan al-qur’an sebagai sebuah pilihan terbaik.
Semoga Allah selalu  melindungi umat Islam di Indonesia ini serta seluruh umat Islam di dunia. Khususnya bagi saudara kita yang dirampas harta benda, tanah, dan haknya, yaitu negeri Palestina. Amin ya rabbal a'lamin. (Disarikan dari pidatonya saat kunjungan di Indonesia)
Dari:Prof. Dr. Wahbah Zuhaili

READMORE - Jangan Jadi Jahil Murakab