Dan sesungguhnya aku wahai para pemimpin, berdiri di sudut ini untuk menerima pahala dari Allah. Aku tidak menghabiskan sisa-sisa hidup menjadi munafik. Aku tidak akan memamerkan diri ini dengan perkara-perkara yang menipu. Tetapi aku ingin memberitahu satu perkara kepada umat semuanya.
Aku meminta maaf jika mengucapkan sesuatu yang kamu semua tidak suka. Aku ingin semuanya tahu bahwa kekuasaan itu di tangan Allah. Allah memberi kekuasaan kepada siapa saja yang Dia suka. Maka janganlah ada komplotan untuk mendapatkan kekuasaan itu. Dan janganlah ada penipuan untuk sampai kepadanya (kekuasaan). Allah swt telah menceritakan dialog antara Namrud dan Nabi Ibrahim as. Apa firman Allah itu?
“..Janganlah engkau (bingung) (wahai Muhammad) memikirkan orang yang berhujjah membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya) mengenai Tuhannya (sedangkan dia dalam kekafiran), karena Allah memberikan orang itu kuasa pemerintahan (Namrud)..”(Qs.al-Baqarah [2]: 258)
Maka kekuasaan itu Allah berikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Maka jangan kamu melakukan makar terhadap Allah. Dan jangan kamu membuat penipuan terhadap Allah. Karena seseorang tidak akan mendapat kekuasaan di dalam kerajaan Allah kecuali dengan kehendak Allah. Kalau dia seorang yang adil, maka manusia akan mendapat manfaat dengan keadilannya. Dan sekiranya dia seorang yang dzalim, maka dia menjadi bodoh dengan kedzalimannya dan Allah akan menjadikannya buruk di dada-dada manusia.
Ketika Allah menjadikan dia buruk di dada manusia, rakyat akan membenci setiap orang yang dzalim walaupun dia tidak terlintas membenci pemerintah itu. Aku berkata kepada kamu sekalian, alhamdulillah, telah jelas kebenaran pada firman Allah azza wa jalla berdasarkan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Bagaimana kita hendak menafsirkan firman Allah, “(Dan mereka merancang perkara yang jahat dan Allah juga turut merancang).(Qs.al-Anfal [8]: 30)
Dan bagaimana kita hendak mentafsirkan firman-firman Allah, “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.”(Qs.ath-Thariq[86]:15-16). Siapa yang terlintas di dalam kepalanya saat ini untuk menjadi pemimpin, aku nasihatkan supaya dia jangan meminta-minta. Akan tetapi menjadi kewajibannya menjadi pemimpin ketika dia sudah dilantik. Sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang dilantik untuk sesuatu perkara, maka dia akan ditolong oleh Allah. Dan barangsiapa yang meminta-minta sesuatu perkara, maka perkara itu akan menjadi beban kepadanya.”(al-Hadis)
Wahai pemimpin, aku ingin katakan satu perkara kepada engkau, “Jika nasib kami bergantung kepada engkau, semoga Allah memberi taufik, menunjukkan kepada kamu jalan yang benar. Dan jika nasib kamu bergantung kepada kami, semoga Allah menolong kamu untuk menanggung beban untuk menghadapi kami”.
Ulama mesti senantiasa berkata benar tidak memandang kepada siapa saja, dan memahami kepentingan dakwahnya. Mengetahui mana yang lebih patut didahulukan atas yang lain. Ada yang mengatakan ulama mestilah non-partisan dan bersikap bebas. Saya katakan, jika ulama tidak berpihak kepada kebenaran dan tidak melahirkannya, bagaimana masyarakat umum bisa mencontoh dan mendukung kebenaran? Maka ulama harus aktif. Ulama harus memberikan motivasi. Harus menunjukkan pembelaannya pada kebenaran. Pihak yang memperjuangkan Islam, dan membrantas kebobrokan kedzaliman pemerintah.
Dari:Dr.Syaikh Mutawalli as-Sya’rawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar