Laman

Jumat, 27 Mei 2011

RAIHLAH ‘UBUDIYAH

اسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ
دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُوْدِيَّتِكَ

Kecondongan dan kecintaanmu agar keistimewaanmu diketahui oleh makhluk merupkan bukti atas ketidak-sungguhan ‘ubudiyahmu
Syarh Hikam II/6 baris ke-12
Banyak sekali orang yang mengaku sungguh-sungguh menghamba kepada Allah. Dan tentu saja pengakuan seperti itu tidak serta merta salah atau mungkin malah ada benarnya. Namun untuk membuktikannya diperlukan ukuran baku yang telah disepakati oleh pakarnya. Ukuran yang dimaksud ialah bahwa jika seseorang merasa cukup dengan ke-Maha-tahu-an Allah terhadap keistimewaannya dan tidak  tahu-menahu apakah ada seorang makhluk yang mengetahui hal itu. Lalu ia pun sibuk dengan malu kepada Allah sekaligus mensyukuri-Nya hingga tidak sempat ingin diketahui oleh makhluk manapun, maka benarlah kesungguhan ‘ubudiyahnya. Misalnya, ia tidak merasa bangga apabila orang lain mengetahui berbagai keistimewaannnya, seperti ilmunya yang bermanfaat, amal shalihnya yang terus bertambah dan keistimewaan-keistimewaan lainnya. Seorang bijak berkata: “Barangsiapa yang ingin amal perbuatannya diketahui oleh oleh orang lain, ia adalah orang yang riya’. Sedang orang yang ingin haliyah (keadaan hatinya) diketahui orang lain, ia adalah pembohong  -atas pengakuannya sebagai hamba Allah-.  
Seorang yang benar-benar ber’ubudiyah tidak akan pernah mengharapkan apalagi mencarinya, bahkan tidak pernah memikirkannya sama sekali, karena baginya perhatian dan ke-Maha-tahu-an Sang Khaliq sudah lebih dari cukup. Maka sirnalah dari hatinya seluruh bentuk perhatian, pujian dan sanjungan makhluk dengan keberadaan perhatian dan pujian Allah Azza wa Jalla. Sikap merasa puas dengan perhatian Allah inilah yang seharusnya senantiasa dikembangkan oleh seorang muslim-mukmin pada awal perjalanan  suluknya agar mengalami peningkatan terus menerus hingga mencapai puncak, yakni sebagai hamba Allah semata, tidak yang lain. Dan jika puncak totalitas penghambaan ini telah diraih maka tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, apakah ada makhluk yang melihat dan memperhatikannya ataukah tidak ada bukan menjadi soal baginya. Wallahu A’lam

Tidak ada komentar: